TUGAS UNTUK MEMENUHI UJIAN TENGAH SEMESTER MATA KULIAH JURNALISTIK
MEMBUAT BERITA HARD-NEWS MINIMAL 500 KATA
TAHUN AJARAN 2019/2020
UNIVERSITAS AL-AZHAR INDONESIA
NAMA : AFIFAH FARHANA FIKRI
NIM : 0802519183
KELAS : KM 19 C
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU
DAN ILMU POLITIK
APRIL 2020
Oleh : Afifah Farhana Fikri
Kelas : KM 19C
NIM : 0802519183
Asal : Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia
Kisah Seorang Suster Di Ruang ICU Khusus Pasien COVID-19 Rumah Sakit Persahabatan.
Jakarta — Salah satu petugas yang tak kalah penting berada di garis depan menghadapi langsung pasien COVID-19, yaitu suster, yang membantu para dokter yang menangani pasien terinfeksi Corona.
Pada kesempatan kali ini saya mewawancarai seorang suster/perawat yg bertugas di RS Persahabatan.
Inilah hasil wawancara singkat dengan beliau melalui WA :
Ibu Supriyati adalah salahsatu dari sekian banyak suster yang bertugas membantu menangani pasien COVID 19. Pekerjaan beliau ditempatkan di bagian ICU yang menangani critical care. Yaitu seperti memantau pasien jika terjadi hal yang buruk secara tiba-tiba.
Selain itu, beliau ikut mengedukasi ke pasien dan keluarganya mengenai pentingnya menjaga diri dari penularan virus Corona yang begitu cepat.
Karena hal itulah, suster Supriyati diwajibkan mengenakan perlengkapan alat pelindung diri APD untuk mencegah terjadinya penularan virus pada dirinya.
Beliau bertugas biasanya 2 sampai 3 jam sesuai kebutuhan yang dibutuhkan pada saat itu. Pakaian APD hanya dapat digunakan dalam sekali pakai, karena dikhawatirkan membawa virus berbahaya yang menempel pada baju APD tersebut. Sehingga harus dibuang dan langsung dibakar. Kecuali yang masih bisa dipakai ulang, seperti kacamata gogle, helm dan sepatu boots.
Karena pekerjaannya tersebut, beliau sangat mengkhawatirkan keluarganya, seperti anak-anak dan suami dirumah. Oleh karena itu, setelah bertugas di rumah sakit, selain membuang APD, beliau langsung mandi dan mengganti dengan pakaian bersih. Sesampainya di rumah pun, beliau mandi kembali, dan mengganti pakaiannya dengan yang baru. Barulah Ia bisa menemui keluarganya.
Bahkan, dengan sudah berpakaian lengkap seperti itu pun tidak menjamin keselamatan si pemakai hingga 100%. Maka dari itu, Ibu Supriyati mengaku sangat menjaga kesehatan dan kebersihan dirinya agar anak, suami serta keluarga besar nya dirumah tidak khawatir akan ikut tertular karena pekerjaan berat yang setiap hari nya berkontak fisik dengan pasien positif corona.
Profil Ibu Supriyati
Mari kita turut mendo'akan, semoga Ibu Supriyati dan para pekerja kesehatan lainnya dilindungi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin, Aamiin Yaa Rabbal 'Alamiin..
Seperti yang sudah kita semua ketahui sebelumnya, bahwa jumlah pasien berstatus positif corona semakin banyak jumlahnya dari hari ke hari. Yang awalnya hanya sejumlah 200, lama kelamaan menjadi 500 orang, 1000, 2000, bahkan kabarnya saat saya sedang mengetik berita ini sekarang, jumlah korban yang berstatus positif terkena virus corona sudah mencapai angka 2.900 lebih.
Alangkah cepat pertumbuhan virus corona di dalam tubuh manusia, korban yang berjatuhan pun akan menjadi semakin banyak, jika begini terus, mau sampai kapan kita mengurung diri di rumah agar tidak tertular maupun menularkan virus corona ke orang lain?
Masyarakat diimbau untuk mengkarantina diri sendiri beserta keluarganya, dengan cara cukup beraktifitas di dalam rumah saja. Andaikan semua orang mempunyai kesadaran akan pentingnya mematuhi peraturan pemerintah yang menyuruh rakyatnya untuk berdiam diri menjaga kesehatan di rumah, maka tentu saja, bisa kita bayangkan bahwa hak tersebut bisa berpengaruh terhdap angka PDP (atau bisa disebut dengan Pasien Dalam Pengawasan).
Informasi yang baru saja saya dapatkan belakangan ini, adalah “faktanya, jumlah dokter serta perawat yang meninggal di Indonesia akibat menangani pasien terjangkit virus corona, jika ditotalkan jumlahnya bisa melebihi jumlah dokter&perawat yang meninggal di Wuhan, bahkan angka tertinggi kematian dokter&perawat ada di negara Indonesia”
Begitu miris jika mengingat keluarga serta orang terdekat korban yang ditinggalkan begitu cepat, mereka tidak bisa menjenguk dan melayat ke kuburan korban disaat pertama dan terakhir kalinya korban melalui prosesi pemakaman. Jika kita telaah lagi, tingkat kematian yang tinggi disebabkan oleh kelalaian orang yang tidak menjaga kesehatan nya dan masih makan di luar rumah tanpa membersihkan tangan terlebuh dahulu. Tidak jarang pula ada orang yang merasa dirinya sakit namun masih memaksakan diri dan berjalan ke tempat umum.