TUGAS PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI
Disusun oleh
Nama : Afifah Farhana Fikri
NIM : 0802519183
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS AL AZHAR INDONESIA
JAKARTA
2019
Livi Zheng adalah seorang sutradara yang tengah kontroversial belakangan ini. Ia mengaku bahwa filmnya masuk kedalam nominasi oscar, padahal perlu susah payah untuk masuk ke dalam nominasi itu, dan itu bukanlah hal yang mudah untuk dicapai.
Menurut saya, kesimpulan tentang film Livi Zheng yaitu film The Santri kurang pantas untuk ditonton dan dipertunjukan kepada rakyat Indonesia, dikarenakan isinya yang bersinggungan dengan nilai-nilai Islam, santri yang sewajarnya tidak boleh bertemu dengan santriwati lainnya, yang anehnya di film ini malah sering bertemu dan ada beberapa adegan drama nya, belum lagi disaat santri dan santriwati mengunjungi gereja yang sudah jelas merupakan tempat ibadah dari agama lain. Saya tidak setuju apabila film seperti ini ditayangkan luas hingga ke luar negeri. Ini sudah secara jelas merusak citra keislaman yang ada pada santri yang sudah susah payah mempelajari agama islam di Indonesia. Banyak juga dari orang-orang yang berpendapat bahwa santri itu jikalau harus keluar negeri, biasanya akan ke negara Arab, Mesir, Kairo, dan lain-lain. Dan bukannya malah ke Amerika. Justru disitulah letak salah satu kejanggalan yang membuat film ini tambah kontroversial saja.
Sesungguhnya, saya dapat mengerti pandangan Livi Zheng terhadap dirinya sendiri. Ia menganggap bahwa apa yang telah dia peroleh itu adalah sebuah pencapaian, karena itu termasuk hal yang subjektif. Disini, Ia juga terkesan seperti ingin "dilihat" oleh orang lain, apabila Ia mencampurkan bahasa indonesia nya dengan bahasa inggrisnya, saya tidak tahu apakah ini hanya sekedar masalah habit/kebiasaan, namun alangkah lebih baik jika berbicara dengan cara yang natural saja, dan tidak dilebih-lebihkan seperti itu.
Namun, yang menjadi masalah disini adalah disaat ia berhadapan langsung dengan orang-orang yang jauh lebih berpengalaman dari dirinya, sebut saja seperti Joko Anwar, Nadine dan lainnya. Ia malah bertingkah serta bereaksi secara defensif dan tidak berusaha untuk mengerti perspektif/cara pandang umum. Padahal, akan menjadi lebih bijak dan rendah hati jikalau Ia ingin merespek atau menghargai karya dari orang lain.. Terlebih lagi, jika saja Ia mau meminta maaf sudah membuat kegaduhan (bisa dibilang sebagai pandangan yang kurang enak dari publik terhadap dirinya) dan mengakui bahwa dirinya masih butuh banyak pembelajaran dari sana-sini. Pasti suasananya akan jauh sangat berbeda.
Industri film serasa seperti bertanya-tanya serta meragukan hasilnya jika sedang wawancara dengan Livi Zheng, karena belum ada bukti yang kuat mengenai pengakuannya tersebut. Terlebih lagi, disaat ia terlihat menyebutkan asal sekolahnya, belum lagi disaat si presenter/pembawa acara menjelaskan bahwa untuk menayangkan film di luar negeri itu bisa hanya dengan membayar 75juta, perbaikan dan pelurusan pola pikir oleh sutradara Joko Anwar, dan masalah lainnya yang tambah membuat publik berpikir bahwa sutradara Livi Zheng ini menjadi kontroversial dimana-mana.
Menurut saya, di jaman sekarang, industri film itu seharusnya seperti peribahasa "Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian" bukannya malah "Air beriak tanda tak dalam" didalam rangka membuktinya karyanya
Sutradara Joko Anwar contohnya, Ia sudah membuktikannya melalui karya-karyanya, maka menjadi wajar jika dalam acara Q&A kali ini terlihat seperti Joko Anwar sedang menguji Livi Zheng.
Intinya, rasa dan norma kemanusiaan adalah kuncinya. dalam acara Q&A kali ini kita mendapat suatu pembelajaran agar lebih banyak berbicara melalui karya, dan bukan sekedar omongan belaka.
Namun, pada sisi lainnya, terlepas dari kontroversial dan dihujat sana-sini, sutradara Livi tampak tetap teguh berdiri. Ia tidak takut, tidak lari, bersembunyi dari awak media dan tetap tidak menghindar untuk ditanya perihal kontroversinya ini bahkan untuk hadir di acara yang secara jelas menghadirkan orang-orang yang bisa "mengeroyok" dia, walau sudah tahu akhirnya akan bagaimanapun Livi tetap menghadapinya.
"Dihina jangan tumbang,
Dipuji jangan melayang,
Perbaiki diri untuk berkembang,
Walaupun cobaan datang menghadang."
Sebagai penutup, saya hanya mau menyimpulkan bahwa berbicara hal buruk mengenai orang lain tidak membuat kita menjadi hebat atau bahkan lebih baik dibanding si lawan bicara kita/orang lain tersebut.